.:: Selamat datang di website Balai Arkeologi Sulawesi Selatan "Bersama kami menemukan peradaban" ::.

Villa Yuliana

Soppeng - Villa Yuliana terletak di Kecamatan Lalabata, letaknya berhadapan dengan istana Datu Soppeng pada jantung kota Watansoppeng. villa ini dibangun pada tahun 1905 (Pananrangi Hamid, 1991:213). Sumber lisan menyebutkan bahwa pada awalnya villa ini dipersiapkan dalam rangka kunjungan Ratu Yuliana di Sulawesi Selatan, namun kondisi keamanan yang tidak memungkinkan sehingga Ratu Yuliana tidak sempat berkunjung, dan oleh Belanda villa ini difungsikan sebagai tempat peristirahatan.

Sejak  tahun 1957 sampai dengan tahun1992, villa ini sudah tidak digunakan, kemudian pada tahun 1992 sampai dengan tahun 1995, villa ini di fungsikan sebagai asrama pegawai bujang Pemda, Polisi Pamong Praja dan Dinas Pemadam Kebakaran. Sekarang ini bangunan tersebut berfungsi sebagai Museum Daerah dan juga sebagai kantor bidang Kebudayaan dan Kesenian, villa ini juga sudah terdaftar sebagai benda cagar budaya.

 

a.      Denah, Bentuk, dan Tata Ruang

Villa Yuliana dibangun sekitar tahun 1900-an, dan pada umumnya arsitektur di Hindia Belanda pada Abad ke 18 dan 19 didominasi oleh gaya yang disebut sebagai Indische Empire. Bentuk denahnya simetri penuh dengan ukuran 16,5 m x 12,6 m, temboknya yang tebal, plafon yang tinggi, lantai marmer, beranda depan dan belakang, peletakan kamar tidur, semuanya persis sama seperti arsitektur gaya Indische Empire, akan tetapi pemakaian teras keliling pada bangunan sudah tidak dipakai lagi, sebagai gantinya dipakai elemen penahan sinar seperti pada arsitektur kolonial modern.

Villa Yuliana dibangun 2 lantai, bentuk denah lantai 2 sama dengan denah lantai 1, pada Lantai 1, ditengah terdapat apa yang disebut sebagai Central Room, sebagai  penghubung ruang yang terdiri dari kamar utama dan kamar lainnya, didalam kamar utama terdapat kamar mandi yang  saling bersebelahan. Central Room tersebut berhubungan langsung teras depan dan teras belakang. Pada teras depan terdapat tangga kayu menuju ke lantai 2, sedangkan pada teras belakang terdapat tangga beton yang menuju ke lantai 2.

Dibelakang bangunan utama, terdapat bangunan tambahan, bangunan ini biasanya untuk bagian servis, seperti umumnya bentuk denah bangunan gaya Indische Empire, bangunan ini dibangun tidak sejaman dengan bangunan Villa, tidak ada keterangan mengenai kapan bangunan ini dibangun.

b.     Orientasi bangunan menghadap ke Barat, yaitu arah matahari tenggelam sebagai bentuk penyesuaian terhadap lingkungan.

c.      Fasad/tampak bangunan villa Yuliana dengan skala bangunan yang tinggi berkesan megah dan kokoh.

d.        Penyangga atau dinding (tiang), pintu-jendela

Dinding tebal 40 cm dari pasangan batu bata, plester, langit-langit tinggi yang berasal dari tipologi Eropa, dengan alasan interior lebih besar pasti lebih sejuk dibanding interior rumah dengan langit-langit rendah, bukaan dari pintu dan jendela dibuat lebih besar, baik daun pintu maupun jendela dilengkapi dengan kisi-kisi yang berfungsi untuk menjamin ventilasi silang yang efektif, terdapat tiang-tiang diserambi depan dan belakang, pada serambi depan ukuran tebal tiangnya tidak sama, 68 cm, dan 80 cm, tiang-tiang tersebut menggunakan struktur busur yang terbuat dari batu bata yang dipasang tegak lurus terhadap bidang lengkungan agar dapat menempel erat satu sama lain saat menerima gaya tekan diatasnya, sedangkan pada serambi belakang menggunakan tiang yang terbuat dari kayu seperti umumnya pada rumah tradisional Bugis.

e.        Bentuk atap pelana dengan kemiringan 45¢ª yang diadaptasi dengan iklim tropis,atap yang lebih curam memungkinkan air hujan trpis mengalir lebih deras ke tanah, penutup atap menggunakan bahan sirap, seperti umumnya pada rumah tradisional Bugis,  terdapat elemen pada atap yang biasa dinamakan gable seperti yang banyak terdapat pada bangunan-bangunan di Belanda dan di Nusantara

f.         Penggunaan tower, tower atau menara ini secara fisik berfungsi untuk menambah estetika, menara ini juga banyak di gunakan pada bangunan kolonial di nusantara. Menara tersebut ditumpu oleh suatu konstruksi susunan bata yang berbentuk lengkung/busur.

g.        Pada lantai 2, terdapat teras yang digunakan untuk melihat pemandangan dari luar, teras ini ada kemiripan dengan rumah tradisional bugis yang biasa di sebut dengan lego-lego,  yang merupakan bangunan tambahan yang ada di depan rumah, yang biasanya dihiasi berbagai ornamen, baik yang berbentuk garis-garis vertikal dan horisontal.

h.        Arsitektur bangunan Villa Yuliana bukan hanya telah beradaptasi dengan lingkungan setempat namun pemakaian bahan bangunan juga telah menggunakan bahan bangunan setempat, seperti pada lantainya yang terbuat dari papan di lantai 2, dan ubin dilantai 1,  serta penutup atap yang menggunakan sirap. (Ade)

 

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas